Kejadian Kecil, Tapi berdampak besar ….

Standar

antrian

Dalam kehidupan kita sehari- hari kita pasti berhubungan dengan banyak orang karena kita tercipta sebagai makhluk sosialis. Hubungan itu terjalin baik dengan guru, dosen , orang tua, teman ,sahabat. Untuk menjalin hubungan baik kita harus mempunyai ” soft skill ” yang baik, agar kita bisa berbaur dan dapat memaknai hidup. Menjalin hubungan itu salah satunya adalah dengan caring, caring  adalah naluri yang akan tumbuh pada setiap pribadi seseorang, jika caring sudah hadir maka sikap empatypun akan mendampingi dan akhirnya akan timbulah sikap altruism. Tapi sering kali sikap altruism ini jarang dimaknai oleh setiap orang karena hakikatnya yang lebih mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan pribadi. Contoh kecilnya saja jika kita sedang berada di tolilet umum dan kondisinya sedang mengantri, sering kali kita malah merasa kesal jika ada yang menerobos antrian, bahkan dapat menimbulkan adu mulut bahkan sampai konflik pun akan terjadi. Padahal jika kita pikirkan lebih jauh orang – orang tersebut pasti memiliki alasan yang penting untuk melakukan hal itu seperti : takut tertinggal kendaraan umum, terkena penyakit susah buang air kecil, atau dia mempunyai anak  yang dia tinggalkan saat dia pergi  ke toilet. 

Intinya dimanapun kita beraada lihatlah sesuatu dari berbagai sisi jangan dari satu sisi saja. Saat terjadi masalah lihatlah juga solusi yang ada disampingnya atau pikirkan sebabnya mengapa hal itu sering terjadi. Jangan terlalu sering memperburuk keadaan karena masalah itu tergantung pada orang yang memandangnya. Masalah akan terasa kecil jika kita mengganggapnya kecil, masalah akan besar jika kita memikirkannya sebagai sesuatu yang besar. Maka dari itu rajin – rajinlah untuk berfikir positif dan berusaha mengedepankan kepentingan orang lain, karen di agama Islam saja kita diperintahkan untuk mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan pribadi. Karena sebagai manusia kita harus menjadi  manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Hamasah ^^9

Image perawat ? Ayo kita kenal lebih dalam

Standar

menakutkan berantakan

Pandangann masyarakat saat ini terhadap seorang perawat masih 50% terdengar positifnya. Hal ini disebababakan karena adanya “ Image “ seorang perawat yang tidak bisa menerapkan sikap “ caring “ dan etika seorang perawat dengan seharusnya. Misalnya suatu hari seorang anak berumur 10 tahun terkena penyakit diare dan dia harus dirawat di Rumah Sakit akibat kekurangan cairan dalam tubuhnya. Saat sampai dirumah  sakit dia dilayani oleh seorang perawat yang “ jutek “ dan jarang sekali untuk tersenyum. Setelah selesai registrasi anak itu beserta ibunya menuju ruang rawat disana perawat tersebut memasangkan jarum infus sampai 6 kali tusukan, entah mengapa hal itu bisa terjadi ? mungkinkah kelalaian seorang perawat atau karena memang sebenarnya dia belum ahli. akibat kejadian itu anak tersebut jadi takut untuk disuntik dan trauma tidak ingin di infuse lagi. Tidak berhenti disitu saja saat setiap kali dia mendengar Rumah Sakit itu yang tergambar dalam benaknya adalah perawat yang salah menyuntikan jarum infuse sampai 6 kali. Hal ini pasti menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyararakat ada sebagian yang mengatakan bahwa itu hanyalah ketidaksengajaan tapi ada yang berfikir bahwa perawat itu kurang pendidikan. Hanya dengan perlakuan satu perawat itu akan mempengaruhi “ Image “ perawat yang lain karena penyebaran informasi dari mulut – kemulut yang nantinya akan menentukan pandangan masyarakat tehadap perawat.

Lalu bagaimana Image perawat yang saat ini  tergambar dimasyarakat :

 

Menjadi seorang perawat profesional membutuh sebuah kerja keras dalam mengatasi berbagai tantangan dan tuntutan. Hal ini dikarenakan pencitraan perawat yang sudah menjadi doktrin yang melekat kuat  di masyarakat melaui pemberitaan di media massa yang terkadang buruk, seperti sombong, judes, tidak ramah, kurang berpendidikan. Seperti itulah citra perawat yang ditampilkan dalam media massa. Apa yang ditampilkan dalam media massa tersebut

Semua hal tersebut muncul karena sebagian perawat di suatu instansi kesehatan yang kurang bisa menerapkan etika sebagaimana layaknya. Akan tetapi sebagian perawat tidak semuanya berperilaku seperti itu bahkan jika kita sadari peran perawat sangat berharga dan teramat snagat menakjubkan jika kita lihat lebih dalam.

Berikut beberapa citra seorang perawat yang biasa dibahas dalam media massa:

  1. Perawat banyak melakukan kesalahan tindakan

Di media massa, banyak di tampilkan berita mengenai kelalaian yang dilakukan oleh perawat dalam tindakan nya, tak heran banyak kasus seperti ini yang akhirnya berujung di persidangan akibat tuntutan dari keluarga pasien. Hal ini sebenarnya terjadi karena standarisasi kemampuan perawat yang masih kurang, hal itu lah yang menyebabkan banyak ditemukannya perawat yang melakukan berbagai kesalahan.

  1. Sikap perawat yang kurang bersahabat

Hal ini merupakan point yang paling banyak dibahas dalam media massa dan masyarakat terkait pelayanan yang diberikan oleh perawat. Paradigma yang berkembang dimasyarakat pun telah menganggap perawat sebagai sosok yang mengerikan dan menakutkan di rumah sakit. Tak khayal perawat sebagai sesorang yang judes dan kasar sering di tampilkan di media, baik melalui berita tertulis dan lisan, atau pun melalui lakon peran seorang perawat dalam sebuah cerita. Hal inilah yang memperkuat asumsi masyarakat mengenai perawat.

  1. Citra positif perawat jarang ditonjolkan.

Selama ini yang kita lihat, jarang ditemukan berita berita mengembirakan dari seorang perawat. Hal ini terjadi karena ditutupi oleh banyak nya permasalahan yang muncul dalam dunia keperawatan sehinnga, keberhasilan seorang perawat tidak akan dianggap sebagai sesuatu yang “ wah “.

 

images (3)Perawat tetaplah Perawat

            Tidak semua perawat berperilaku seperti yang tergambarkan sebelumnya dalam hakikatnya perawat adalah seorang yang sangat mulia. Bahkan jika kita lihat lebih dalam perawat adalah sosok yang sangat “ caring “ . Mengapa dikatan demikian karena banyak perawat yang murah senyum, sopan , penyayang dan mereka sangat menjungjung sikap altruism ( mementingkan orang lain ). Contoh kecilnya mereka rela mengorbankan waktunya bersama keluarga, sahabat, dan waktu luangnnya jika seandainya dia dihubungi untuk cepat datang ke suatu Rumah sakit karena disana membutuhkan bantuan. Dalam penampilan sendiri perawat selalu berusaha untuk tampil cantik dan meawan agar pasiennya senang ketika melihat kearahnya. Perawat juga setia mendengarkan keluh kesah pasien, padahal siapa yang tahu dipundaknya ia memikul beban berat dan siapa yang tahu hatinya juga sakit bila sering dimarahi pasien dan selalu dianggap sebgai pembantu dokter.Untuk itu sahabat semua ayolah kita kenal perawat seutuhnya bukan hanya mendapatkan informasi dari mulut – kemulut pandanglah perawat sebagai sosok yang mulia dan bersahaja. Adapun kode etik perawat terhadap kliennya:

Perawat dan Klien

1. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama yang dianut serta kedudukan social.

2. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari klien

3. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan

4. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. 

 

 

Standar

images (2)

Altruisme atau mementingkan diri sendiri adalah prinsip atau praktek kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain . Ini adalah kebajikan tradisional dalam banyak budaya dan aspek inti dari berbagai tradisi agama , meskipun konsep ” orang lain ” kepada siapa perhatian harus diarahkan dapat bervariasi antara budaya dan agama . Altruisme atau mementingkan diri sendiri adalah kebalikan dari keegoisan .

Altruisme dapat dibedakan dari perasaan loyalitas . Altruisme murni terdiri dari mengorbankan sesuatu untuk orang lain selain diri ( waktu misalnya mengorbankan , energi atau harta ) tanpa mengharapkan kompensasi atau keuntungan , baik secara langsung , maupun tidak langsung ( misalnya , menerima pengakuan atas tindakan memberi ) .

Istilah “altruisme” juga dapat merujuk pada suatu doktrin etis yang mengklaim bahwa individu

individu secara moral berkewajiban untuk dimanfaatkan bagi orang lain.Konsep ini memiliki sejarah panjang dalam filosofis dan etika berpikir. Istilah ini awalnyadiciptakan oleh pendiri sosiologi dan filsuf ilmu pengetahuan,Auguste Comte, dan telah menjadi topik utama bagi psikolog (terutama peneliti psikologi evolusioner), biologi evolusioner, dan etolog. Sementara ide-ide tentang altruisme dari satu bidang dapat memberikan dampak pada bidang lain, metode yang berbeda dan fokus bidang-bidang ini menghasilkan perspektif yang berbeda pada altruisme. Altruisme menurut para ahli

Menurut Walstern, dan Piliavin (Deaux, 1976). Perilaku altruistik adalah perilaku menolong yang timbul bukan karena adanyatekanan atau kewajiban, melainkan tindakan tersebut bersifat sukarela dan tidak berdasarkan norma–norma tertentu, tindakantersebut juga merugikan penolong, karena meminta pengorbananwaktu, usaha,uang dan tidak ada imbalan atau pun reward dari semua pengorbanan.

Altruisme adalah tindakan suka rela yang dilakukan olehseseorang atau pun kelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun, kecuali mungkin perasaan telah melakukan perbuatan baik. Sears dkk (1994)

 

Altruisme adalah tindakan sukarela untuk menolong orang laintanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun atau disebut juga sebagai tindakan tanpa pamrih. Altruisme dapat juga didefinisikan tindakan memberi bantuan kepada orang lain tanpa adanya antisipasi akan reward atau hadiah dari orang yang ditolong (Macaulay dan Berkowitz, 1970).

 

Altruisme adalah keadaan motivasional seseorang yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain (Batson, 1991).Menurut Baston (2002), altruisme adalah respon yang menimbulkan positive feeling, seperti empati. Seseorang yangaltruis memiliki motivasi altruistic, keinginan untuk selalu menolong orang lain. Motivasi altuistik tersebut muncul karena ada alas aninternal di dalam dirinya yang menimbulkan positive feeling sehingga dapat memunculkan tindakan untuk menolong orang lain.

 Faktor-faktor yang mempengaruhi altruistic.

Menurut Myers (dalam Ginintasasi, 2008) altruisme dapat dipengaruhi oleh tiga faktor antara lain sebagai berikut.

  1. Faktor situasional merupakan faktor yang menggambarkan situasi, suasana hati, pencapaian reward perilaku sebelum dan pengamatan langsung tentang derajat kebutuhan yang ditolong serta beberapa pertimbangan yang akan mengantar dinamika diri sendiri untuk melakukan tindakan altruistik atau tidak seperti desakan waktu.
  2. Faktor interpersonal mencakup jenis kelamin, kesamaan karakteristik, kedekatan hubungan, dan daya tarik antar penolong dan yang ditolong.
  3. Faktor personal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri subyek yang menolong, mencakup perasaan subyek dan religiusitas subyek.

Beberapa penelitian psikologi sosial melihat bahwa pemberian bantuan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut (Sarwono, dalam Ginintasasi 2008).

    1. Kehadiran orang lain

Menurut Sarwono (dalam Ginintasasi, 2008), faktor utama dan pertama yang berpengaruh pada perilaku menolong atau tidak menolong adalah orang lain yang kebetulan ada di tempat kejadian. Latane dan Darley (Sears, dalam Ginintasasi, 2008) mengemukakan bahwa kehadiran penonton yang begitu banyak mungkin memungkinkan tidak adanya usaha untuk memberikan pertolongan. Semakin banyak orang lain, makin kecil kemungkinan orang untuk menolong, sebaliknya orang yang sendirian cenderung lebih bersedia menolong. Latane dan Nida (Sarwono, dalam Ginintasasi, 2008) orang-rang yang menyaksikan suatu kejadian seperti peristiwa pembunuhan, kecelakaan, perampokan, dan peristiwa-peristiwa lainnya mungkin menduga bahwa sudah ada orang lain yang menghubungi pihak yang berwajib sehingga kurang mempunyai tanggung jawab pribadi untuk turun tangan.

Mengapa kehadiran orang lain kadang menghambat usaha untuk menolong. Analisis pengambilan keputusan tentang perilaku sosial memberikan beberapa penjelasan. Baumeiter (Sears, dalam Ginintasasi, 2008) adalah penyebaran tanggung jawab yang timbul karena kehadiran orang lain. Bila hanya satu orang yang menyaksikan korban yang mengalami kesulitan, maka orang itu mempunyai tanggung jawab penuh untuk memberikan reaksi tersebut dan akan menimbulkan rasa salah dan sesal bila tidak bertindak. Bila orang lain juga hadir, pertolongan juga bisa muncul dari beberapa orang. Kedua tentang efek penonton menyangkut ambiguitas dalam menginterpretasi situasi. Analisis pengambilan keputusan menyatakan bahwa kadang-kadang penolong tidak yakin apakah situasi tertentu dapat benar-benar merupakan situasi darurat. Perilaku penonton yang lain dapat mempengaruhi bagaimana reaksi seseorang.

    1. Kondisi lingkungan

Keadaan fisik juga mempengaruhi orang untuk memberi bantuan. Sejumlah penelitian membuktikan pengaruh kondisi lingkungan seperti cuaca, ukuran kota, dan derajat kebisingan terhadap pemberian bantuan. Efek cuaca terhadap pemberian bantuan diteliti dalam dua penelitian lapangan yang dilakukan oleh Conmingham (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008). Dalam penelitian pertama, para pejalan kaki dihampiri diluar rumah dan diminta untuk membantu peneliti dengan mengisi kuesioner. Orang lebih cenderung membantu bila hari cerah dan bila suhu udara relatif menyenangkan relatif hangat dimusim dingin dan relatif sejuk di musim panas). Dalam penelitian kedua yang mengamati bahwa para pelanggan memberi tip yang lebih banyak bila hari cukup cerah. Menurut Ahmed (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) bahwa orang lebih cenderung menolong pengendara motor yang mogok dalam cuaca cerah dari pada dalam cuaca mendung pada siang hari dan pada malam hari.

Faktor lingkungan lainnya yang dapat mempengaruhi tindakan menolong adalah kebisingan. Methews dan Canon (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) bahwa suara bising yang keras menyebabkan orang lain mengabaikan orang lain di sekitarnya dan memotivasi mereka untuk meninggalkan situasi tersebut secepatnya sehingga menciptakan penonton yang tidak begitu suka menolong.

    1. Tekanan waktu

Penelitian menyatakan bahwa kadang-kadang seseorang berada dalam keadaan tergesa-gesa untuk menolong. Orang yang sibuk cenderung untuk tidak menolong sedangkan orang yang santai lebih besar kemungkinannya untuk memberikan pertolongan kepada yang memerlukannya. Bukti nyata efek ini berasal dari eksperimen yang dilakukan oleh Darley dan Boston (Sears dkk, 1994) dimana ditemukan 10 % subyek yang diberikan tekanan waktu memberikan bantuan dan 63 % subyek yang tidak diberikan tekanan waktu dapat memberikan pertolongan. Dari hasil tersebut para peneliti menyatakan bahwa tekanan waktu menyebabkan seseorang dapat mengabaikan kebutuhan korban sehingga tindakan pertolongan tidak terjadi.

    1. Faktor kepribadian

Tampaknya ciri kepribadian tertentu mendorong orang untuk memberikan pertolongan dalam beberapa jenis situasi yang lain. Satow (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) mengamati bahwa orang yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial lebih cenderung untuk menyumbangkan uang bagi kepentingan amal daripada orang yang mempumnyai tingkat yang rendah untuk diterima secara sosial, tetapi hanya bila orang menyaksikannya. Orang yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh pujian dari orang lain sehingga bertindak lebih prososial agar mereka lebih diperhatikan.

    1. Suasana hati

Ada sejumlah bukti bahwa orang cenderung untuk memberikan bantuan bila mereka ada dalam suasana yang baik hati. Suasana perasaan positif yang hangat meningkatkan kesediaan untuk membantu. Efek suasana hati tidak berlangsung lama hanya 20 menit, suasana hati yang positif bisa menurunkan kesediaan untuk menolong bila pemberian bantuan akan mengurangi suasana hati yang baik (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008). Rupanya orang yang berada dalam suasana hati yang baik ingin mempertahankan perasaan mereka.

Efek suasana hati yang buruk, seperti depresi. Suasana hati yang buruk menurut Thompson (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) menyebabkan individu memusatkan perhatian pada diri individu sendiri dan kebutuhan diri sendiri maka suasana ini akan mengurangi suasana untuk membantu orang lain. Di lain pihak, bila individu berpikir bahwa menolong orang lain bisa membuat individu merasa lebih baik sehingga mengurangi suasana hati yang buruk, maka individu akan mudah memberikan bantuan.

    1. Distress diri dan rasa empatik

Distress diri (personal distress) adalah reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain, perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin, tidak berdaya, atau perasaan apapun yang dialami. Sebaliknya yang dimaksud rasa atau empatik (emphatic concern) adalah perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagai pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. Perbedaan utamanya adalah bahwa penderitaan diri terfokus pada diri sendiri, sedangkan rasa empatik terfokus pada orang lain.

Distress diri memotivasi seseorang untuk mengurangi kegelisahan yang dialami. Orang bisa melakukan dengan membantu orang yang membutuhkan, tetapi orang juga dapat melakukannya dengan menghindari situasi tersebut atau mengabaikan penderitaan di sekitarnya. Sebaliknya, rasa empatik hanya dapat dikurangi dengan membantu orang yang berada dalam kesulitan. Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan orang lain, jelas bahwa rasa empatik merupakan sumber altruistik (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008).

Meskipun orang-orang kadang merasa terganggu, sedih dan marah oleh cacat atau kekurangan umat manusia, namun individu mengalami ikatan perasaan yang mendalam bagi sesamanya. Konsekwensinya adalah mereka memiliki hasrat yang tulus untuk membantu sesamanya. Menurut Maslow (Koeswara, dalam Ginintasasi, 2008) sikap memelihara (nurturance attitude) adalah sikap seseorang terhadap saudaranya. Meski saudaranya lemah, bodoh, atau bahkan jahat, seseorang akan selalu menunjukkan kasih dan pengampun. Bagi orang-orang yang self-actualize, bagaimanapun cacat dan bodohnya, manusia adalah sesama yang selalu mengandung simpati dan persaudaraan.

    1. Menolong orang yang disukai

Rasa suka pada orang lain dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti daya tarik fisik dan kesamaan. Penelitian tentang perilaku sosial menyimpulkan bahwa karakteristik yang sama juga mempengaruhi pemberian bantuan. Menurut Feldman (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) kesediaan untuk membantu akan lebih besar terhadap orang yang berasal dari daerah yang sama dari pada terhadap orang lain.

Bar-tal (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) mengemukakan bahwa perilaku membantu dipengaruhi oleh jenis hubungan antar orang, seperti yang terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Tidak peduli apakah karena merasa suka, kewajiban sosial, kepentingan diri, orang lebih suka menolong teman dekat dari pada orang asing.

    1. Menolong orang yang pantas ditolong

Apakah seseorang akan mendapatkan bantuan atau tidak sebagian bergantung pada manfaat kasus tersebut. Beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa faktor sebab akibat yang utama adalah pengendalian diri, individu lebih cenderung menolong bila individu yakin bahwa penyebab timbulnya masalah berada di luar kendali orang tersebut. Mungkin seseorang merasa simpati dan prihatin terhadap mereka yang mangalami penderitaan bukan karena kesalahan mereka sendiri.

itsar

Sebagai seorang muslim tindakan altruism adalah hal yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT. Tindakan tersebut lebih dikenal dengan istilah “ Itsar “. Lalu apa itu itsar ?

Itsar (لْإِيثَارُا ), secara bahasa bermakna melebihkan orang lain atas dirinya sendiri. Sifat ini termasuk akhlak mulia yang sudah mulai hilang di masa kita sekarang ini,  Padahal akhlak mulia ini adalah puncak  tertinggi dari ukhuwah islamiyah dan merupakan hal yang sangat dicintai oleh Allah Ta’ala dan juga dicintai oleh setiap makhluk. Memang jika dilihat dari timbangan logika, hal ini merupakan hal yang sangat berat, mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain tanpa mendapatkan imbalan apapun. Akan tetapi di dalam agama islam, hal ini bukanlah suatu hal yang mustahil. Tinta emas sejarah telah menuliskannya, bagaimana sikap itsar kaum muslimin terhadap saudaranya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai sambutan orang-orang anshar terhadap orang-orang muhajirin,

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah  dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang  berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada memiliki keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah menjelaskan siapakah orang-orang yang dimaksud di dalam ayat ini,  “Mereka adalah golongan  As-Sabiqunal Awwalun, dari golongan muhajirin dan anshar, yaitu orang-orang yang berinfak sebelum penaklukan kota Makkah dan mereka juga orang-orang yang berperang, termasuk orang-orang berbai’at di bawah pohon (Bai’at Ar-Ridhwan), yang jumlah mereka lebih dari 1.400 orang.  (Lihat Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi, Tahqiq Abdul Muhsin at-Turki dan Syu’aib al-Arna’uth I/692)

 

Sampingan

Tata Nilai Perawat

Sebagai seorang perawat kita dituntut agar berhubungan baik dengan pasien. Dalam hal ini Nilai baik dan kepribadian seorang perawat sangat dibutuhkan agar dapat menunjang praktik dalam keperawatan. Dalam praktiknya seorang perawat tidak hanya akan berhubungan dengan klien, tenaga kesehatan yang lain, tetapi dengan teman sejawatpun akan sering berhubungan, karena mereka yang nantinya akan bekerja sama dan berdiskusi dengan kita seorang perawat untuk kesembuhan seorang pasien. Tidak selamanya teman sejawat itu akan memiliki nilai yang sama dengan kita,untuk itu penting bagi seorang perawat dalam mengenali nilai-nilai dalam dirinya.

Dalam profesi keperawatan seorang perawat memiliki nilai-nilai dalam profesinya. Pada tahun 1985, “ The American Association Colleges of Nursing “ melaksanakan suatu proyek termasuk didalamnya mengidentifikasi niali-nilai esensial dalam praktek keperawatan profesional. Niali-nilai tersebut adalah :

1. Aesthetics (keindahan)

Kualitas obyek suatu peristiwa atau kejadian, seseorang memberikan kepuasan termasuk penghargaan, kreatifitas, imajinasi, sensitifitas dan kepedulian.

Contoh : seorang perawat yang telah selesai melaksanakan tindakan keperawatan personal hygiene (memandikan) yang kemudian memberikan reinforchment positif kepada kliennya, sehingga meningkatkan harga diri klien tersebut dan klien tersebut merasa dirinya teraktualisasi.

2. Altruisme (mengutamakan orang lain):

Kesediaan memperhatikan kesejahteraan orang lain termasuk keperawatan, komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan hati serta ketekunan. Pada nilai ini sikap perawat yang lebih mengutamakan orang lain, daripada keperluannya sendiri yaitu lebih mengutamakan kewajibannya daripada hak.

3. Equality (kesetaraan)

Memiliki hak atau status yang sama termasuk penerimaan dengan sikap asertif, kejujuran, harga diri dan toleransi.

Contoh: Bapak Anu merupakan salah satu masyarakat yang tergolong masyarakat miskin, sedangkan suster Hani perawat bapak Anu merupakan masyarakat yang tergolong dalam masyarakat menengah keatas. Namun dalam pemberian pelayanan kesehatan suster hani memberikan pelayanan yang terbaik bagi kliennya tanpa melihat status golongan dari kliennya.

4. Freedom (Kebebasan)

Memiliki kapasitas untuk memilih kegiatan termasuk percaya diri, harapan, disiplin serta kebebasan dalam pengarahan diri sendiri. Disini seorang perawat bebas untuk berbuat atau bertindak namun tetap harus sesuai dengan etika dan moral keperawatan.

5. Human dignity (Martabat manusia)

Berhubungan dengan penghargaan yang lekat terhadap martabat manusia sebagai individu termasuk didalamnya kemanusiaan, kebaikan, pertimbangan dan penghargaan penuh terhadap kepercayaan.

Contoh: seorang perawat merasa sangat senang apabila pasiennya memutuskan untuk berhenti merokok serta mengurangi kegiatan bisnisnya, karena dia mulai menyadari dan sangat menghargai kesehatannya.

6. Justice (Keadilan)

Menjunjung tinggi moral dan prinsip-prinsip legal termasuk objektifitas, moralitas, integritas, dorongan dan keadilan serta kewajaran.

Contoh : seorang perawat yang adil dalam memberikan pelayanan tanpa memandang status ekonomi kliennnya, dan selalu memberikan pelayanan yang terbaik pada semua pasien.

7. Truth (Kebenaran)

Menerima kenyataan dan realita, termasuk akontabilitas, kejujuran, keunikan dan reflektifitas yang rasional. Perawat yang jujur dalam memberikan tindakan, dan dalam memberikan informasi yang riil dalam pekembangan kesehatan klien, termasuk jujur dalam pemberian obat, agar kepercayaan klien meningkat dan juga untuk menghindari kasus mall praktik.

Gambar

Caring

Didalam dunia kesehatan pasti kita menjumpai sejumlah tenaga kesehatan diantaranya dokter,perawat ,ahli gizi dll. perawat adalah Perawat adalah profesi yang difokuskan pada perawatan individu, keluarga, dan masyarakat sehingga mereka dapat mencapai, mempertahankan, atau memulihkan kesehatan yang optimal dan kualitas hidup dari lahir sampai meninggal.Dalam  praktinya seorang perawat bukan hanya merawat oarng sakit melainkan orang sehat juga ,seorang perawat yang baik dia akan memiliki sikap caring yang baik juga terhadap kliennya. peningkatan penggunaan teknologi untuk diagnosis  cepat  dan pengobatan sering menyebabkan perawat dan tenaga kesehatan lain melihat hubungan dengan klien  sebagai sesuatu hal yang tidak penting. Padahal untuk seorang perawat sikap caring ,empati,dan altruism adalah kunci untuk menjadi seorang perawat yang dapat dicintai kliennya

Setelah panjang lebar sebenarnya apa sih caring itu ?

Caring berarti bahwa seseorang,kejadian,rencana, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan banyak orang ( Benner dan Wrebel,1989 )

Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal. Caring bukan semata-mata perilaku. Caring adalah cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring juga didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et all, 1999) Sikap caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan, dan niat baik.

Swanson (1991)mendefinisikan caring sebagai suatu cara pemeliharaan berhubungan dengan menghargai orang lain,disertai perasaan memiliki dan tanggung jawab, dari berbagai teori caring diatas dapat disimpulkan bahwa caring adalah sikap seorang perawat dan merupakan keahlian soft skill seorang tenaga kesehatan dimana yang berperan aktifnya adalah seorang perawat. Caring memfasilitasi kemampuan perawat untuk mengenali klien,membuat perawat mengetahui masalah klien dan mencari serta melaksanakan solusinya. Perlakuan perawat yang lembut,sejalan dengan kontak mata,kepedulian,terhadap masalah klien,dan hubungan fisik mengekspresikan focus pada individu. Caring memfasilitasi kemampuan perawat untuk mengenali klien, membuat perawat mengetahui masalah klien serta mencarikan solusinya. Perawat harus menyajikan sikap sikap caring berdasarkan nilai-nilai cultural dan kepercayaan klien.Meskipun kebutuhan akan caring manusia bersifat universal,tetapi penerapannya berdasarkan kulturnya.

sebelum melakukan caring perawat harus mengenal yang namanya komunikasi terpeutik

Apa yang dimaksud dengan komunikasi Terapeutik ?

Komunikasi terpeutik adalah suati interaksi interpersonal antara perawat dank lien, yang selama interaksi berlangsung, perawat berfokus pada kebutuhan khusus klien untuk meningkatkan pertukaran informasi yang efektik antara perawat dan klien . Keterampilan dalam menggunakan teknik komunikasi terapeutik membantu perawat memahami dan berempati terhadap pengalaman kilen.

Tujuan Komunikasi Terapeutik :

v  Membangun hubungan terapeutik perawat – klien.

v  Mengidentifikasi masalah kilen yang paling penting pada saat tersebut tepat pada waktunya ( tujuan yang berpusat pada klien )

v  Mengkaji persepsi klien tentang masalah saat klien terbuka dalam menceritakan peristiwa tersebut. Hal ini mencakup tindakan terperinci ( Perilaku dan pesan ) individu yang terlibat : pikiran tentang situasi, orang lain, dan diri sendiri yang berhubungan dengan situasi : dan perasaan tentang situasi, orang lain, dan diri sendiri.

v  Mengenali kebutuhan mendasar kilen.

v  Memandu klien dalam mengidentifikasi cara pencapaian solusi yang memuaskan dan dapat diterima secara social.

Komponen Esensial Komuniaksi Terapeutik

Dalam berkomunikasi terapeutik seorang perawat harus memperhatikan komponen esensial komunikasi terapeutik yaitu :

  1. Kerahasiaan

Perawat berarti menghormati hak klien untuk menjaga rahasia setiap informasi tentang kesehatan fisik dan jiwanya serta perawatan yang terkait. Kerahasiaan berarti hanya mengizinkan individu yang terlibat dalam perawatn klien untuk memiliki akses – akses ke informasi yang diungkapkan klien. Perawat harus waspada jika klien memintanya untuk menjaga rahasia karena informasi ini mungkin berhubungan dengan klien mencederai dirinya sendiri atau orang lain.

  1. Keterbukaan Diri

Berarti membuka informasi pribadi tentang diri sendiri kepada klien, misalnya informasi biografi dan ide, pikiran, serta perasaan pribadi ( Deering,1999). Kebijaksanaan konvensional menetapkan bahwa perawat hanya boleh member tahu nama, status pernikahan, jumlah anak, dan mungkin boleh memberikan gambaran umum tentang tempat tinggal. Keterbukaan diri dapat digunakan untuk member dukungan, mendidik klien, menunjukkan bahwa kecemasan klien adalah normal. Ketika membuka diri, pertimbangkan faktor budaya. Misalnya, jika klien berasal dari budaya yang individunya bersikap tenang dan tidak komunikatif, keterbukaan diri dapat dianggap tidak tepat. Jadi upayakan membuka diri singkat dan nyaman.

  1. Privasi dan Menghormati Batasan

Privasi adalah sesuatu yang didinginkan tetapi tidak selalu memungkinkan dalam komunikasi terapeutik. Privasi sering kali sulit dicapai dalam ruang semi pribadi ketika dua klien mengalami imobilisasi. Baik klien maupun perawat dapat merasa terancam jika seseorang memasuki zona intim atau zona personal orang lain, dalam hal ini dapat menimbulkan ketegangan, iritabilitas, kegelisahan, atau bahkan menjauh.

  1. Sentuhan

Menyentuh klien dapat member rasa nyaman dan suportif bila hal tersebut diinginkan dan didizinkan. perawat harus mengobservasi klien untuk melihat isyarat yang menunjukkan apakah sentuhan diinginkan atau diindikasikan. Misalnya memegang tangan seorang ibu yang menangis terisak dan anaknya sakit merupakan tindakan yang tepat dan terapeutik, tetapi jiak ibu menarik tangannya, menunjukkan kepada perawat bahwa ibu merasa tidak nyama disentuh.

Saran Untuk Praktik Seorang Perawat dalam menangani Pasien

  • Ketahui kultur klien sebelum melakukan praktik caring
  • Ketahui tradisi kultural klien tentang pelayanan kematian. Dalam beberapa kultur mengatakan bahwa klien dalam keadaan sekarat adalah suatu hal yang sensitive.
  • Mencari adakah anggota keluarga klien atau kelompok kultur yang merupakan sumber daya praktik caring melalui sentuhan dan kehadiran.
  • Menjelaskan kebutuhan akan pemberi layanan dengan gender yang sama.
  • Hindari penggunaan kata –  kata yang kurang sopan karena dapat menimbulkan kesalahpahaman antara klien / keluarganya dengan pemberi layanan.
  • Ketahui Tradisi kultural klien tentang penolakan bantuan kehidupan.

empaty

EMPATI

Apa sebenarnya empati itu ?

Empati merupakan kemampuan perawat untuk mempersepsikan tujuan dan perasaan klien dan menyampaikan pemahaman tersebut kepada klien. Mampu menempatkan diri pada posisi klien tidak berarti perawat memiliki pengalaman yang persis. Akan tetapi, dengan mendengarkan dan merasakan pentingnya situasi tersebut bagi klien, perawat dapat membayangkan perasaan klien tentang pengalaman ini. Baik klien maupun perawat member “ hadiah pada diri masing – masing “ ketika empati terbentuk – klien dengan merasa cukup aman untuk berbagai perasaan, dan perawat dengan mendengarkan secara cukup cermat dan sepenuhnya untuk memahami kilen. Perawat perlu memahami perbedaan antara empati dan simpati ( rasa peduli atau kasihan yang ditunjukkan seseorang kepada orang lain ). Dengan menunjukkan simpati, perawat dapat memproyeksikan perasaanya pada klien. Hal ini membuat klien berhenti mengungkapkan perasaanya kepada perawat.

Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dialami oleh orang lain dalam kerangka acuan orang tersebut, hal ini sering digambarkan sebagai suatu kemapuan untuk menempatkan diri sendiri dalam keadaan yang dialami orang lain. Inti dari interaksi empati merupakan pemahaman terhadap perasaan orang lain secara akurat ( price dan Archold, 1997:White, 1997 : Wright dan Leahey, 1994 )

Kemampuan Empati

Greenspan dkk (Cartledge & Milburn, 1995) secara lebih rinci menyatakan bahwa  kemampuan  ini meliputi  kemampuan  untuk  mengidentifikasikan  dan memahami  perasaan  orang  lain, mengambil  sudut  pandang  orang  lain,  serta menjadi terbangkitkan secara emosional terhadap situasi yang dihadapi orang lain.

Aspek-aspek  dari  kemampuan  empati  yang  meliputi  aspek  kognitif  dan emosi.  Fesbach  dkk  (Carltledge  &  Milburn,  1995)  menyebutkan  aspek-aspek kemampuan empati tersebut, yaitu :

a.  Rekognisi dan diskriminasi dari perasaan

Rekognisi  dan  diskriminasi  dari  perasaan  adalah  kemampuan menggunakan informasi yang relevan untuk memberi nama dan mengidentifikasikan emosi.

b.  Pengambilan perspektif dan peran

Pengambilan  perspektif  adalah  kemampuan memahami  bahwa  individu  lain melihat  dan  mengintepretasikan  situasi  dengan  cara  yang  berbeda,  serta kemampuan  mengambil  dan  mengalami  sudut  pandang  orang  lain.

c.  Responsivitas emosional

Responsivitas emosional adalah kemampuan untuk mengalami dan menyadari emosinya sendiri.

Hubungan Kepribadian Seseorang dengan Empati

Kepribadian seseorang berhubungan dengan interaksinya dengan lingkungannya. Didalam dlingkungan pasti akan terjalin suatu interaksi social, dan salah satu faktor pendorong interaksi social adalah sikap empati.contohnya : jika dilihat dalam segi keperwatan seorang perawat harus menjalin interaksi social dengan klien, petugas kesehatan yang ada dirumah sakit, teman sejawat, maupun keluarga pasien

Sampingan

Image

Hubungan antara Nilai,sosialisasi dan Kepribadian

                Kepribadian seseorang yang sekarang adalah hasil dari proses sosialisasinya saat dahulu.Dimana sosialisasi diperlukan agar seseorang dapat mengenali dirinya sendiri,apakah dia disukai  atau tidak oleh orang lain. Artinya sejak lahir seseorang sudah bersosialisasi dan mempelajari bagaimana bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.Dengan demikian seseorang akan bertindak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dimasyarakat. Jika nilai yang dianutnya baik dan sesuai dengan norma maka proses sosialisasipun akan berjalan dengan baik,dan sebaliknya.Seseorang biasanya akan mendapat penilaian dari orang lain baik penilaian baik atau buruk,itu semua sering disebut dengan kepribadian,padahal hal tersebut hanyalah sebagian dari kepribadian orang tersebut.

                Menurut Yinger,Kepribadian adalah keseluruhan perilaku seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.

Sampingan

Nilai adalah kepercayaan individu tentang kegunaan dari ide,sikap,adat istiadat,atau objek yang menentukan standar yang mempengaruhi perilaku ( Maslow,1977;Rokeach,1973).

Nilai-nilai yang dipegang seseorang mencerminkan pengaruh budaya dan sosial,berbeda antar individu,serta terus berkembang dan berubah dari waktu ke waktu.

Nilai memberikan hidup dan identitas kepada individu, profesi dan masyarakat. Nilai dibentuk dan dipertahankan oleh individu pelakunya dan juga oleh sekelompok orang. Pada praktiknya, perawat memprioritaskan nilai keperawatan ketika mengambil keputusan dalam pelayanan kesehatan.

Sampingan

index Nilai ? apa yang ada dibenak kita saat mendengar kata nilai.Memang nilai merupakan sesuatu yang sangat klasik dan merupakan sesuatu yang berasal dari dalam diri seseorang yang mengandung keyakinan atau perilaku karena memepengaruhi sikap dan tindakan seseorang.